Hari ini adalah puncak dari kesedihanku, hari ini adalah bentuk kejujuran hatiku dalam bertutur kata hati yang terdalam. Hari ini tanggal 17 juli 2015 aku menunjukkan apa-apa saja yang ada dihatiku. Semua ku sampaikan dalam bentuk tulisan-tulisan sederhana tentang hatiku.
Sayang, pernahkah kau tahu bagaimana mementingkan perasaan orang lain tanpa memperdulikan perasaan kita. Pernahkan memandang orang yang kita sayangi jauh lebih berharga dari pada diri kita. Pernahkan kau mengerdilkan dirimu didepan orang lain hanya untuk kebesaran dirimu. Pernahkah kau tahu seperti apa ego yang biasanya engkau luapkan tanpa pikir panjang tetapi didepan orang yang kita sayang tidak?
Coba, cobalah jadi aku. Aku mau mengabaikan bagaimana sakitnya hatiku demi kesenangan bathin dan perasaanmu. Aku rela berpeluh, berpanas ria, bahkan kehujanan untuk memenuhi apa yang engkau inginkan pada saat itu juga. Aku rela terlihat seperti orang bodoh yang menuruti keinginan mu dan semua perintah mu hanya karena besarnya bentuk penghormatanku terhadapmu, tanpa memperdulikan siapa aku sebenarnya. Dan satu hal yang membuatku merasa hebat dan luar biasa. Ketahuilah kasih, aku dulu orang yang paling egois dan tak memandang perasaan orang, pentingnya diri yang lain dihadapan kita. Tapi kali ini aku betul-betul harus menaklukkan keegoisanku (my selfless) di hadapanmu. Aku akui aku berhasil. Tapi...
Sepertinya kau tak pernah menghargai keberhasilan terbesarku, kau tak pernah merubah egoismu sendiri terhadapku. Aku bahkan tertatih-tatih untuk meminta maaf, walaupun saat itu kau yang melakukan kesalahan. Tidak melakuka. Kesalahan saja aku sudah salah dimata mu, apalagi Kesalah kecil aku lakukan, kau akan dendam padaku. Yaa...aku menuntut keadilan padamu. Kau melakukan kesalahan, aku yang meminta maaf supaya kau dan aku baik-baik saja. Tetapi sepatah kata maafpun tak pernah kau ucapkan kalaulah kau berbuat salah dan aku marah padamu itu jadi alasanmu untuk menaruh dendam lagi untuk ku.
Sudahlah kasih, untuk apa kau mempermainkan perasaan mu, untuk apa kau menahan setiap dendam mu kalau itu membuatmu sesak didada. Utarakan apa maumu, utarakan pendapatmu kalau lah itu hal-hal yang mengenai isi hatimu. Jangan perjuangkan egomu kalau kamu tidak suka kita sering ribut begini. Aku juga gak kuat begini terus. Semakin kita sering ribut, maka bibit kebosanan akan datang menghampirimu.
Jujur, aku gak sanggup lagi kalau kau terus begini, lelaki memiliki batas-batas jenuh juga. Aku berjuang bukan karena aku ingin kan ragamu semata-mata untuk menemani hari-hari kita dengan status pacaran kita. Aku butuh kau karena aku ingin dicintai setulusnya seperti aku tulus mencintaimu.
Sayang, aku sungguh ingin kita baik-baik saja. Karena aku Cinta kamu.